Rancangan studi
Sebuah studi baru yang dikutip publikasi Health pada Kamis (22/10) waktu setempat menguji hubungan antara kacang kenari dan tidur. Peneliti merekrut 76 orang dewasa muda berusia 20-35 tahun untuk uji coba selama 18 minggu. Pada fase pertama yang berlangsung delapan minggu, satu kelompok makan 40 gram kacang kenari saat makan malam setiap hari sementara kelompok lain tidak, dan peserta diminta tidak mengonsumsi jenis kacang lain. Setelah jeda dua minggu, kedua kelompok bertukar peran.
Hasil pengukuran
Sepanjang studi peserta memberikan sampel urine untuk mengukur produksi melatonin. Selama tujuh hari berturut-turut di setiap fase mereka juga mengenakan pelacak pergelangan tangan yang memantau pola tidur, tingkat aktivitas, suhu kulit, dan paparan cahaya. Pada fase mengonsumsi kacang kenari, peserta mengalami peningkatan signifikan produksi melatonin malam, membutuhkan waktu lebih singkat untuk tertidur, mendapat skor lebih tinggi pada kualitas tidur global, serta melaporkan rasa kantuk siang yang lebih sedikit.
Kandungan yang berperan
Setiap porsi kacang kenari rata-rata mengandung 84,6 miligram triptofan, 118 nanogram melatonin, dan rasio triptofan terhadap asam amino kompetitif sebesar 0,058. Psikolog pengobatan tidur perilaku Daniella Marchetti menjelaskan triptofan adalah titik awal biokimia untuk sintesis serotonin dan melatonin yang mengatur tidur, sementara melatonin meningkat pada malam hari dan memberi sinyal waktu tidur. Menurutnya, mengonsumsi makanan yang mengandung melatonin dapat memperkuat sinyal tersebut.
Claudio Daily merangkum dan menulis ulang informasi dari laporan sumber. Untuk konteks lengkap, kutipan, dan pembaruan terbaru, baca laporan asli.
Baca sumber asli di ANTARA News ↗


